Sabtu, 15 Oktober 2011

Perjalanan Kemanusiaan Totto-chan


Judul Buku ` : Totto-chan’s Children – A Goodwill Journey to the Children of theWorld
Penulis  : Tetsuko Kuroyanagi
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Tahun Terbit : Januari 2010
Tebal halaman : 328 halaman

Tetsuko Kuroyanagi, mungkin sebagian besar orang di dunia sudah tidak asing lagi mendengar namanya. Penulis buku Totto-chan : Gadis Cilik di Jendela yang telah diterbitkan di 33 negara di dunia ini telah dewasa. Tetsuko Kuroyanagi atau Totto-chan, panggilan semasa kecilnya telah menjadi akrtis dan duta kemanusiaan UNICEF dari Jepang. Pada bukunya kali ini Tetsuko mengisahkan perjalanannya ke 14 negara sejak tahun 1984 dan 1997. Negara-negara yang dikunjunginya adalah Tanzania, Nigeria, India, Mozambik, Kamboja, Vietnam, Angola, Bangladesh, Irak, Rwanda, Etiopia, Sudan, Haiti dan Bosnia-Herzegovia.
Pada prolog buku ini, pembaca akan diajak menyelami keprihatinan Tetsuko pada nasib anak-anak di berbagai negara yang mengalami kekeringan maupun terkena dampak perang melalui kalimat-kalimat pendek. Di dalam prolog juga terdapat kata-kata seorang kepala desa di Tanzania, seorang anak di India, dan berbagai peristiwa di negara yang ia kunjungi. Lalu, dimulailah perjalanan Tetsuko ke negara-negara tersebut. Perjalanan Tetsuko dimulai di Tanzania pada tahun 1984. Pada saat itu, Tanzania mengalami kekeringan besar sehingga enam ratus anak berumur di bawah lima tahun meninggal akibat kekurangan gizi dan penyakit setiap harinya. Disana Tetsuko bertemu seorang anak laki-laki yang berkata “Giyon” kepadanya dan Benedicta, seorang gadis berumur dua setengah tahun yang antisosial. Mencari sumber air disana tidaklah mudah, anak-anak harus berjalan beberapa lebih dari lima kilometer untuk mendapatkan air, bahkan air itu berlumpur.  Keadaan ini tidak jauh dengan Nigeria, Tetsuko mengunjungi negara yang mengalami kekeringan berkepanjangan itu pada tahun 1985. Saat itu, sumber air yang harusnya 97,5 persen, kini menjadi 2,5 persen. Disana, tepatnya setelah ia tiba di Tanout, Tetsuko membantu warga Nigeria menanam pohon agar hujan turun dan disanalah Tetsuko mendapat gelar Duta Kemanusiaan Hujan.
Kunjungan Tetsuko berikutnya adalah India. 3,5 juta anak di India meninggal karena dehidrasi diare dan penyakit lainnya. Kurangnya vaksinasi membuat anak-anak itu meninggal, dan sebagian besar karena tetanus. Di salah satu rumah sakit di India, Tetsuko bertemu dengan seorang anak laki-laki yang terjangkit tetanus. Meski, menurut dokter anak itu akan sembuh, tetapi Tetsuko tetap mengkhawatirkannya. Di tengah keadaan yang menurut Tetsuko keadaan yang sangat buruk, anak itu berkata pada Tetsuko “Aku berdoa untuk kebahagiaanmu”. Pada tahun 1987, Mozambik mengalami perang gerilya akibat sistem apatheid yang sedang mengalami ancaman. Perang itu menyebabkan beribu-ribu orang meninggal, dan beribu-ribu anak menjadi yatim piatu dan kekurangan gizi. Disana pengungsi harus tinggal di gerbong-gerbong kereta yang tidak berjalan. Tetsuko bertemu dengan seorang ibu yang mempunyai sepuluh anak yang setengahnya adalah anak yang yatim piatu.


 
 Hal ini tidak jauh berbeda dengan akibat perang yang terjadi di Kamboja dan Vietnam, banyak anak menjadi yatim piatu dan sebagian besar diantaranya tidak bersekolah. Rezim Pol Pot di Kamboja membuat semua orang berpengaruh atas perkembangan negara, seperti politikus, dokter, guru dibunuh. Mereka disiksa sebelum akhirnya meninggal, di Museum Tuol Sleng terdapat 9000 tengkorak korban rezim Pol Pot berjejer. Hanya seorang dokter dan seorang aktor yang selamat dari Rezim itu, dan banyak anak-anak terlantar sehingga mereka tidak memiliki pakaian yang layak. Di Vietnam terdapat sekolah malam untuk anak-anak yang bekerja di siang hari. Perang antara Vietnam dan Amerika memang sudah lama berlalu, tetapi akibatnya banyak anak yang cacat akibat bom beracun dari Amerika. Tetsuko bertemu seorang gadis yang lahir tanpa memiliki bola mata. Disana juga banyak lahir bayi kembar siam yang disebabkan sang ibu kekurangan gizi, salah satunya adalah Viet dan Duc.
Pada tahun 1989, Tetsuko mengunjungi Angola yang pada saat itu terjadi perang saudara yang menyebabkan 375 dari seribu anak meninggal sebelum umur lima tahun dan sebagian besar anak yang hidup harus melewati sisa hidupnya dengan tubuh yang cacat akibah tentara gerilya. Meski demikian, pendidikan tidak pernah terhenti, sebagian anak di Angola bersekolah dengan membawa kursi sendiri bukan buku catatan atau tas sekolah. Seorang tentara di camp memberikan Tetsuko sebuket bunga apa adanya dengan malu-malu. Tetapi di balik semua itu yang mereka inginkan hanyalah kebebasan.
Selanjutnya, Tetsuko mengunjungi Bangladesh pada tahun 1990. Bangladesh merupakan negara termiskin di dunia pada saat itu, 900.000 anak meninggal setiap tahunnya karena kekurangan gizi, diare, dan penyakit lainnya. Selain itu, kaum wanita disana tidak sebebas yang dipikirkan. Suami mereka melarang mereka untuk keluar, bahkan untuk berbelanja sampai didirikannya Bank Grameen yang membuat mereka dapat menghasilkan uang. Meski sebagian besar penyebab kematian anak adalah diare, tetapi disana terdapat Rumah Sakit Diare terbaik di dunia dan beberapa anak di rawat disana. Pada tahun 1991, Tetsuko mengunjungi Irak setelah mengalami Perang Teluk Persia. Anak-anak disana kekurangan gizi akibatnya kurangnya makanan bergizi dan menghilangnya susu bubuk serta sebagian besar anak yatim piatu dijadikan orang dewasa sebagai pendeteksi ranjau darat agar ia selamat. Disana Tetsuko terpaksa menolak pemberian sebuah pisau oleh seorang lelaki tua dari Suku Kurdi.
Perang saudara pun turut terjadi di Etiopia, menyebabkan dampak yang buruk dan kekeringan. Anak-anak kekurangan gizi pun merebak, selain itu terdapat berbagai penyakit yang menyebabkan kematian mereka. Penduduk di Etiopia menambah sejak datang pengungsi dari Somalia yang berharap akan ada makanan. Disana Tetsuko melihat anak sangat kurus hingga tulang-tulangnya terlihat sangat jelas. Anak-anak tidak hanya lapar akan makanan tetapi juga lapar akan cinta. Tahun 1993, Tetsuko mengunjungi Sudan yang mengalami kekeringan dan perang saudara antara pemerintah dan SPLA (Sudan People’s Liberation Army) yang banyak menjatuhkan korban. Tetapi pendidikan disana tidak surut, meski hanya ala kadarnya. Seorang anak menjawab pertanyaan Tetsuko dengan lirih bahwa yang ia inginkan adalah bola sepak. Selain tertembak oleh pasukan SPLA, banyak anak diserang oleh Hyena di sana.
Hal ini tidak jauh berbeda dengan yang terjadi di Rwanda, perang saudara berjatuhan. Banyak anak yang menjadi yatim piatu karena orang tua mereka dibunuh dan sebagian besar kepala mereka dipotong dengan golok. Tapi, yang menjadi perbedaan kali ini adalah yang membunuh orang tua mereka bukan kelompok tentara gerilya melainkan orang-orang yang mereka kenal. Di salah satu wilayah di Rwanda, anak-anak dipaksa menjadi tentara dan hal itu membuat mereka benci. Setelah kudeta rezim autokratis di Haiti pada tahun 1995, Tetsuko mengunjungi negara tersebut. Banyak anak-anak jalanan dan kekurangan gizi yang dirawat seadanya. Banyak anak jalanan yang tidur di jalanan terang secara berdesakan agar mereka aman. Disana anak-anak bayi prematur hanya sedikit yang dimasukkan ke inkubator dan itupun sesuai dengan anak yang harapan hidupnya tinggi.
Setelah itu pada tahun 1996, Tetsuko mengunjungi Bosnia-Herzegovina yang mengalami perang saudara. Disana memang tidak banyak anak yang mengalami kekurangan gizi, tetapi mereka mengalami gangguan psikologi yang memprihatinkan. Sebagian besar anak-anak disana mengalami trauma dan terpaksa harus mengalami hal itu sampai mereka dewasa. Selain itu disana Tetsuko dicurigai menjadi mata-mata dan terpaksa harus memberikan bus sebagai jaminannya. Banyak anak ingin kembali menjadi nol tahun agar mereka tidak perlu mengalami pedihnya perang. Saat akan meninggalkan negara itu, Tetsuko teringat ucapan seseorang, “ Kita tidak dilahirkan untuk saling membenci, kita dilahirkan untuk saling mengasihi.”
Di Epilog buku terdapat kalimat-kalimat pendek yang menggambarkan suasana hati anak-anak dan Tetsuko. Selain itu pada bagian penutup dikisahkan bagaimana Tetsuko menjadi duta kemanusiaan UNICEF Jepang serta ucapan terima kasihnya untuk segala pihaknya yang membantunya dalam pembuatan buku maupun dalam perjalanannya ke negara-negara berkembang itu. Di sana tertulis sedikit tentang Benedicta, gadis Tanzania yang selalu dikhawatirkan Tetsuko, kini Benedicta telah dewasa dan diasuh oleh Mrs. Mogella, duta besar Tanzania.
Sungguh sulit menemukan kekurangan buku ini, karena buku ini begitu mengharukan dan dapat membuka mata seseorang lebar-lebar mengenai dunia. Selain itu, terdapat foto-foto yang diambil Takeyoshi Tanuma, fotografer dan Ichiro Tagawa, kameramen TV Asahi.
Satu hal yang menarik dari buku ini, Tetsuko tidak hanya sekedar mengumbar nasib tragis rakyat-rakyat negara-negara yang ditemuinya, tapi juga mengangkat sisi betapa di tengah segala kesulitan yang menimpa, harapan bahwa keadaan akan menjadi lebih baik masih terus tumbuh di dalam hati mereka. Seperti kata seorang gadis yang ditemuinya di Bandara Etiopia yang mengatakan bahwa ia ingin hidup saat ditanya apa yang paling diinginkannya. Sungguh suatu jawaban sederhana, namun terasa sulit dilakukan saat ambisi dan nafsu serakah masih mendominasi benak para penguasa dunia.



0 komentar:

Posting Komentar