Malam yang membantuku untuk membulatkan tekad dan kenekatanku.
Tidak ada yang tahu akan rencanaku besok kecuali dia.
Ya, dia satu-satunya yang tahu rencana nekatku esok.
Aku menceritakan segala kisah suka citaku padanya.
Dia bagaikan saudara yang takterpisahkan.
Dia bagaikan udara yang takpernah sekalipun kulewatkan tukkuhirup.
Selalu bersamaku, selalu mendengar ceritaku.
Sampai malam itu kuceritakan sebuah rencana besarku.
Rencana yang hanya kumpulan dari nekat dan kekesalanku.
Rencana yang menjadi solusi indah dalam hidupku.
Takpernah ada di dalam pikiranku kau akan menolak rencanaku.
Tapi pikiranku salah.
Kau menolaknya dengan dingin dan melontarkan sebuah kata yang menyakitkan.
Kau bahkan tidak tahu bagaimana perasaanku.
Pergi bagai angin, datang bagai badai.
Kau hanya memikirkan apa yang nantinya berpengaruh padamu.
Aku lelah memikirkannya.
Tak pernah ada pikiran untuk membencimu atau mengungkapkan isi hatiku.
Isi hati yang penuh dengan uneg-uneg.
Aku ingat di saat kamu mengatakan bahwa kalau ada sesuatu katakan saja.
Tetapi, semua itu aku katakan diiringi solusi-solusi cerdas dan impian-impianku.
Kau memang mendengarkan.
Mendengarkan hanya mendengarkan.
Sesekali kau membalasnya dengan logika dinginmu.
Dan itu semua membuatku diam...
Karena aku terlalu lelah untuk bicara tentang perasaanku.
Ya, terlalu lelah untuk bicara...
- Anonymous


0 komentar:
Posting Komentar